Archives

Post

BUDAYA TELEVISI DAN REALITAS SIMBOLIK

BUDAYA TELEVISI DAN REALITAS SIMBOLIK

Desain besar kebudayaan seringkali tak mampu mengendalikan dinamika sosial ke arah sebagaimana yang dirancangkannya. Ada perkembangan-perkembangan sosial, ekonomi, dan politik, yang memiliki orbitasi, irama, domain dan dinamikanya sendiri. Sekurang-kurangnya, itulah yang terjadi pada perkembangan pertelevisian kita, khususnya televisi swasta. Kita hendak mendesain televisi sebagai institusi media yang, antara lain, memiliki fungsi informatif-edukatif, membentuk kepribadian bangsa, bertujuan menangkal pengaruh budaya asing, menjadi tuan rumah di negeri sendiri, atau memelihara dan melestarikan budaya adiluhung. Dengan televisi kita hendak mendefinisikan kehidupan bangsa ke arah yang sesuai dengan desain besar kebudayaan, yang disebut kebudayaan nasional.
Tetapi ternyata televisi kita telah berkembang tidak sesuai dengan desain kebudayaan seperti di atas, dan berkembang hanya menjadi media hiburan, yang dapat dilhat dari dominasi hiburan pada acara-acaranya. Tetapi hanya menjadi media hiburan bukanlah perkara sederhana, ternyata. Untuk hanya menjadi media hiburan, harus melalui evolusi perkembangan yang panjang, melalui transformasi dari masyarakat yang bertata agraris ke industrial, bahkan hanya dapat berlangsung setelah kita memasuki jaman yang oleh para ahli komunikasi disebut sebagai hasil revolusi komunikasi. Dalam spektrum makro, ini merupakan konsekuensi dari masuknya komponen-komponen yang kemudian menjadi bagian integral dari sistem pertelevisian, baik secara organisasional maupun institusional. Televisi swasta identik dengan modal besar, pemanfaatkan teknologi dan produk teknologi canggih (hi-tech), dikelola dengan manajemen modern dan oleh tenaga-tenaga profesional; di sisi lain, ia sepenuhnya melayani; permintaan dan selera pemirsa serta bergantung pada pengiklan. Berpayah-payah kita membangun televisi, dengan menghadirkan komponen-komponen institusional yang dahsyat itu hanya untuk menjadikan televisi sebagai media hiburan.
Bahasa lain yang sering dipergunakan adalah, TV swasta merupakan sebuah industri yang harus hidup berdasarkan mekanisme pasar. Pada sisi ini, mekanisme pasar menghendaki agar tayangan TV lebih banyak bersifat hiburan, pengisi waktu senggang para pekerja industri setelah lelah kerja seharian. Semua acara televisi harus dikemas dan diformat sebagai hiburan, karena hiburanlah yang dimaui pasar. Yang dimaksud pasar di sini adalah khalayak plus pengiklan. Logikanya, jika TV berhasil memprogram dan menayangkan acara-acaranya sesuai dengan selera khalayak, mampu mengundang pemirsa dalam jumlah yang banyak untuk duduk di depan televisi, maka pengiklan akan datang. Kepentingan pengiklan adalah menginformasikan produknya kepada segmen khalayak tertentu sebanyak mungkin, dan televisi dipandang sebagai media yang dapat memenuhi syarat itu. Acara televisi apa saja asal ditonton banyak pemirsa, akan mengundang pengiklan. Jadi, kalau dalam Si Doel Anak Betawi banyak iklannya, bukan semata-mata karena si pengiklan mendukung misi melestarikan budaya Betawi, misalnya, tetapi lebih karena sinetron tersebut banyak menyedot pemirsa.
Ada saling ketergantungan kepentingan antara stasiun televisi, khalayak, dan pengiklan. Dalam kata-kata Ashadi Siregar, Dengan munculnya televisi swasta, dinamika programing yang sesungguhnya berulah berlangsung, yaitu sebagai hasil interaksi stasiun penyiaran –khalayak penonton– pemasang iklan. Interaksi segitiga inilah yang menjadi dasar dari seluruh programing. Budaya (media) televisi terselenggara dalam dinamika semacam itu.
Ini menjadi semacam penegasan, bahwa budaya televisi yang terselenggara telah "menyimpang" dari fungsi ideal media massa, yakni integrasi antara fungsi-fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial, dan hiburan. Nilai-nilai yang menyemangati perilaku pasar dan sistem kapital(isme), yang masih malu-malu kita sambut kehadirannya, memulas wajah budaya dan menjadi mode of production stasiun televisi. Cara kerja, sistem yang mengatur hubungannya dengan lembaga-lembaga terkait, serta layanannya terhadap khalayak pemirsa, mencerminkan budayanya yang berwajah ekonomi. Dengan titik tolak inilah kita berbicara soal budaya televisi kita.


Televisi
Media televisi yang bersifat audio visual memiliki pengaruh sangat besar terhadap jiwa pemirsa utamanya anak karena gambar yang ditayangkan terlihat hidup seolah nyata. Berbeda dengan sifat radio yang hanya audio dan media cetak yang hanya terlihat (visual). Pakar komunikasi Onong Uchyana Effendi dalam buknya "Dimensi-Dimensi Komunikasi," (1986) menyebutkan, televisi merupakan paduan radio (broadcast) dan film (moving picture). Pada TV ada unsur radio dan unsur film. Televisi memiliki daya tarik yang kuat meski TV lebih merupakan medium komunikasi massa seperti halnya radio.
Di negara kita TVRI dimulai pada 17 Agustus 1962 dengan studio sederhana di kompleks Senayan Jakarta. Dibandingkan negara maju seperti AS, Inggris, Australia, Jepang dan negara lain di Eropa, Indonesia termasuk baru tapi dibanding Malaysia dan Singapura, Indonesia sudah terlebih dahulu. Lahir-nya TV tidak disambut hangat oleh semua kalangan sebab TV memukul dunia perfilman apalagi TV tidak hanya mampu memutar film tapi juga berita, musik, pendidikan, ceramah, dan sebagainya.
Pengaruh TV
Kehadiran TV juga telah mempengaruhi kehidupan masyarakat secara umum. Prof Dr R Mar'at (Unpad) mengatakan acara TV umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan penonton, mengakibatkan penonton terharu, terpesona atau latah dan melakukan peniruan yang negatif. Maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana caranya supaya terjadi peniruan yang positif. Sementara pakar Hukum Komunikasi, Prof A Muis dalam bukunya "Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Menjangkau Era Cybercommunication Milenium Ketiga," (1999), menulis, menghubungkan sistem media massa dengan kebudayaan berarti kita berurusan dengan dua sisi, kebudayaan dan dengan dua sisi komunikasi antar manusia (human communication), yakni fungsi dan peranan nilai budaya terhadap komunikasi pada satu sisi dan pada sisi lain fungsi dan peranan komunikasi dalam pelestarian nilai budaya maupun dalam transformasi sosial atau pergeseran nilai budaya. Kebudayaan dan komunikasi adalah dua sisi kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan.
Di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) disebutkan media massa diberi tugas, kewajiban atau fungsi formal untuk melestarikan nilai budaya bangsa Indonesia. Menurut beliau dalam kaitan media massa ini perlu dibuat strategi dan politik budaya yang baru, yang memungkinkan terpeliharanya masyarakat dari polusi rohani dan polusi budaya yang ditimbulkan oleh kemajuan media massa yaitu dengan cara mengembangkan peraturan perundang-undangan di bidang media massa termasuk menggiatkan lembaga peradilan dan pembuatan/penyempurnaan undang-undang. Cara lain ialah mengembangkan kegiatan lembaga swadaya masyarakat dalam bidang dakwah atau pendidikan non formal yang materinya ialah melawan media massa yang mengandung polusi rohani dan polusi kebudayaan.
Budaya dan Simbol
Ilmuwan Amerika spesialis Jawa, Clifford Geertz, merumuskan kebudayaan sebagai pola nilai dalam bentuk simbol-simbol yang diwariskan secara historis, suatu acuan wawasan yang dinyatakan dalam bentuk perlambang lewat mana masyarakat berkonmunikasi, meneruskan, dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikap mereka atas kehidupan
Titik sentralnya terletak pada simbol, bagaimana manusia berkomunikasi lewat simbol. Di satu sisi, simbol terbentuk melalui dinamisasi interaksi sosial, yang merupakan realitas empirik, dan kemudian diwariskan secara historis, bermuatan nilai-nilai; dan di sisi lain simbol merupakan acuan wawasan, memberi petunjuk bagaimana warga budaya tertentu menjalani hidup, media sekaligus pesan komunikasi, dan representasi realitas sosial.
Catatan yang dapat dikedepankan di sini adalah, karena simbol merupakan representasi dari realitas empirik, maka jika realitas empirik berubah maka simbol-simbol budaya itu juga mengalami perubahan. Di sini kebudayaan adalah suatu proses, bukan suatu akhir, karena suatu proses maka selalu tumbuh dan berkembang. Dalam bahasa Umar Kayam kebudayaan dimengerti sebagai proses upaya masyarakat yang dialektis dalam menjawab setiap permasalahan dan tantangan yang dihadapkan kepadanya. Dan kebudayaan, dengan demikian, adalah sesuatu yang gelisah, yang terus-menerus bergerak secara dinamis dan pendek. Sifat dialektis ini mengisyaratkan adanya suatu kontinuum, suatu kesinambungan sejarah.
Dalam kaitannya dengan perubahan kebudayaan dalam menjawab kebutuhan individu dan masyarakat, S.I. Poeradisastra merumuskan kebudayaan sebagai suatu organisme hidup yang berubah-ubah di dalam ruang dan waktu, menjawab keperluan insani, atau dengan kata-kata Bronislaw Malinowski, culture is essentially a response to human need.
Singkatnya, kebudayaan bisa dan selalu berubah untuk keperluan memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat. Fungsi kebudayaan tidak hanya sebagai preservasi, tetapi juga inovasi, yakni menjawab kebutuhan-kebutuhan obyektif masyarakat yang selalu berubah, di masa kini dan masa mendatang. Membicarakan fungsi inovatif kebudayaan mengalirkan pemikiran pada perubahan sosok kebudayaan. Kebudayaan bukan lagi sebagai kata benda, melainkan sudah ditekankan pada kata kerja bukan saja berupa benda-benda antik, candi, museum, dan sejenisnya, tetapi kini kebudayaan dihubungkan dengan cara menciptakan benda-benda elektronika, perilaku transaksi jual beli atau gaya berbelanja (keluar negeri), perilaku manusia berilmu pengetahuan dan berteknologi. Persoalan budaya yang kita hadapi kini, bukan lagi polemik antara tradisionalisme dan modernisme, melainkan telah bergeser dan ditekankan pada kondisi kekinian, yang mengakui kenyataan empirik bahwa dunia kini adalah dunia kecanggihan teknologi, dunia ilmu dan teknologi, era komputer, pasar bebas, globalisasi, dan juga dunia televisi. M. Sastrapratedja merumuskannya sebagai demitologi ilmu dan teknologi.
Produksi budaya televisi adalah simbol. Televisi memproduksi dan menyiarkan realitas, realitas sosial, dalam bentuk simbol-simbol. Dalam kehidupan sosial, manusia juga hidup dalam lingkungan simbolik. Tetapi pada televisi, simbol adalah utama. Kuntowijoyo, misalnya, membagi lingkungan manusia menjadi tiga. Pertama, lingkungan material, merupakan lingkungan buatan manusia, seperti rumah, jembatan, sawah, dan peralatan-peralatan. Kedua, lingkungan sosial, ialah organisasi sosial, stratifikasi, sosialisasi, gaya hidup, dan sebagainya. Dan ketiga lingkungan simbolik, yakni segala sesuatu yang meliputi makna dan komunikasi, seperti kata, bahasa, mite, nyanyian, seni, upacara, tingkahlaku, benda-benda, konsep-konsep, dan sebagainya. Televisi menghadirkan semua lingkungan manusia itu dalam bentuk simbol, mengubah realitas empirik lingkungan manusia menjadi realitas simbolik. Sedangkan Cassirer menyebut bentuk-bentuk simbolik itu adalah mitos, religi, bahasa, seni, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Menurutnya, itu semua merupakan bermacam-macam benang yang menyusun jaring-jaring simbolis, tali-temali rumit dalam pengalaman manusia.
Menarik untuk mengutip Cassirer lebih lanjut, yang menunjukkan semakin dalamnya manusia terlibat dalam dunia simbolik dan betapa semakin jauhnya jarak manusia dengan realitas empirik ketika peradaban semakin maju.
Setiap kemajuan dalam pikiran dan pengalaman manusia memperbaiki dan memperkuat jaring-jaring ini. Manusia tak dapat lagi berhadapan langsung dengan realitas; ia tak dapat bertatap muka dengannya. Realitas fisik bagaikan melangkah surut tatkala kegiatan simbolik manusia menjangkah ke depan. Tidak lagi berurusan dengan benda-benda pada dirinya sendiri, manusia dalam arti tertentu terus menerus berhadapan dengan diri sendiri. Ia menyelubungi diri rapat-rapat dengan bentuk-bentuk bahasa, citra-citra artistik, pralambang-pralambang mistis atau ibadah-ibadah agama. Ia tak melihat atau mengetahui apa-apa selain bermunculannya medium artifisial itu. Jelas yang dibicarakan Cassirer adalah manusia modern dengan lingkungan modern pula. Televisi adalah jendela dunia, kita dapat menyaksikan pentas dunia lewat televisi. Kita melihat kehidupan remaja Amerika melalui Beverly Hill 90210, memahami Jepang dengan Samurai, melihat Irak melalui (pemberitaan tentang) Sadam Husein, menikmati tubuh seorang artis melalui jaringan internet, melihat Jakarta lewat kasus perkelahian pelajar. Realitas fisik dan realitas empirik kita lihat dan fahami lewat simbol-simbol, yang sebagian besar diproduksi oleh media massa. Dan, media massa, dengan kecanggihan teknologi komunikasinya telah membuat jarak antara realitas fisik/empirik dengan realitas simbolik semakin jauh.
Televisi Realitas Simbolik
Ada anggapan dan harapan, televisi sebagai media audio-visual akan dapat menyajikan fakta-fakta secara lebih obyektif, lebih sesuai dengan warna aslinya. Rekaman kameranya merupakan fakta dalam bentuk gambar dan suara, diharapkan dapat mengungkapkan fakta dengan senyata-nyatanya, sehingga lebih obyektif. Benarkah demikian?
Media memiliki realitas, sebut saja realitas media, yang berbeda dengan realitas empirik, meskipun realitas media direproduksi sepenuhnya berdasarkan realitas empirik. Realitas empirik, berupa fakta-fakta, memiliki keutuhan dan kerangka. Ketika suatu peristiwa direkam dengan kamera, sesungguhnya yang direkam hanyalah potongan-potongan peristiwa dari suatu peristiwa yang utuh dan berkerangka. Kamera mengambil salah satu sudut suatu peristiwa itu dan melepaskannya dari kerangka keseluruhan yang mengitarinya. Rekaman potongan peristiwa-peristiwa ini kemudian diedit, dikemas, dan dijadikan jalinan cerita baru, dan mungkin untuk mendukung suatu kepentingan, atau menghindari tekanan suatu kekuasaan.
Maka cerita media tentang peristiwa Ujung Pandang bisa jadi berbeda dengan versi cerita Si Mamat atau saksi mata yang lain.
Dalam menyajikan realitas empirik, media memiliki bahasa tersendiri, bahasa yang dibentuk oleh pertautan antara komponen-komponen yang terintegrasi dalam sistem organisasi dan institusi media televisi: gaya penyiar, teknologi, modal, profesionalisme, efisiensi, iklan, pasar, bahkan ideologi. Postman dalam bukunya yang diberi judul amat provokatif, 20;
Menghibur Diri Sampai Mati, menyebut bahasa televisi ini sebagai konversasi, yang nampaknya diilhami oleh aksioma McLuhan: the media is the message. Konversasi secara metaforis, kata Postman, untuk tidak hanya menunjuk pada percakapan namun juga pada segala teknik dan teknologi yang memungkinkan umat manusia dari suatu peradaban tertentu untuk bertukar pesan. Dalam pengertian ini, semua kebudayaan adalah suatu konversasi atau lebih jelasnya lagi, suatu kumpulan konversasi, diadakan dengan berbagai variasi simbolis.
Tuturan simbolik televisi merupakan conversasi dari dunia material, dunia sosial, dan dunia simbolik yang menjadi lingkungan manusia, sebagaimana dikemukakan Kuntowijoyo di atas. Televisi mengubah dan mentransformasikan dunia manusia ini menjadi realitas media (televisi). Media menentukan bagaimana suatu realitas empirik diformat, dikemas dengan trik-trik kamera, editing, yang membuat suatu materi tampil menarik, membentuk cerita baru tentang realitas: realitas televisi. Di sisi lain, untuk memberi ilustrasi pada aksioma the media is the message-nya McLuhan, media televisi telah mendefinisikan siapa saja dan apa saja yang hendak ditampilkan. Seseorang bisa saja amat vokal dan dan amat kritis berbicara dalam berbagai seminar, tetapi akan menjadi jinak dan sopan ketika harus berbicara di depan kamera televisi. Ia harus menyesuaikan diri dan menggunakan konversasi televisi dan menghilangkan konversasi seminar ketika tampil di layar televisi, dalam gaya dan cara mengungkapkan realitas.
Dalam konsepsi Fiske, televisi berfungsi sebagai a bearer/provoker of meaning and pleasures. Televisi sebagai budaya merupakan bagian yang krusial dari dinamika sosial yang memelihara struktur sosial dalam suatu proses produksi dan reproduksi yang konstan: melalui makna, berupa populer pleasures, dan oleh karena tu sirkulasinya adalah bagian dan merupakan parcel struktur sosial. Televisi memaknakan realitas sosial, dengan simbol. Secara teknis, Fiske membagi proses bekerjanya produksi dan reproduksi realitas, melalui tahapan-tahapan; Tahap pertama adalah reality, yang berujud penampilan, pakaian, make-up, lingkungan, perilaku, berbicara, gesture, ekspresi, suara, dsb. Tahap kedua, representation, televisi menggunakan kamera, penyinaran, editing, musik, suara, untuk membuat cerita yang berbentuk narasi, konflik, aksyen, dialog, setting, casting, dsb. Dan tahap ketiga disebut ideology, yang merupakan organisasi dari kode-kode ideologi secara koheren dan dapat diterima: individualisme, patriakhi, ras, materialisme, kapitalisme, dsb. Tahapan-tahapan ini menggambarkan bagaimana suatu realitas fisik/empirik diolah, diubah, dan ditransformasikan menjadi realitas simbolik.
Membudayanya televisi di masyarakat kita, telah membuat masyarakat percaya bahwa realitas televisi adalah reproduksi (dan rekonstruksi) dari realitas empirik. Artinya, masyarakat merasa bahwa realitas televisi identik dengan realitas empirik. Masyarakat merasa memiliki realitas televisi sebagaimana ia memiliki realitas fisik/empirik, dan menyamakan tingkat validitas, kepercayaan, dan kebenaran kedua realitas itu. Televisi memiliki kemampuan untuk mengangkat kehidupan sosial sebagai realitas televisi secara meyakinkan, menjadikan realitas televisi seolah-olah sama dengan realitas empirik, di mata publik. Orang percaya bahwa citra seorang bintang pop yang dibentuk dengan konversasi televisi adalah realitas empirik bintang itu sendiri. Seolah-olah konversasi televisi sama dengan konversasi individu dan masyarakat. Yang mengganggu dan menggelisahkan manusia, kata Epiktetos, bukanlah benda-benda, melainkan opini-opini dan angan-angan tentang benda-benda itu. Jika televisi menciptakan impian, mengaburkan perbedaan dan adanya jarak antara dua realitas itu, kita memang layak gelisah.

KESIMPULAN

Dengan memaparkan perbedaan antara realitas empirik dengan realitas media hendak dikatakan bahwa ada suatu sebab yang menjauhkan jarak antara kedua realitas itu. Di Indonesia penyebabnya bukan hanya yang berhubungan dengan faktor-faktor produksi, seperti program acara harus didasarkan atas interaksi antara stasiun TV, khalayak pemirsa dan pengiklan. Memang, dinamika pasar telah membuat TV beorientasi pada etika konsumsi dengan memprogram acara-acaranya sepenuhnya untuk memenuhi selera khalayak demi mengundang pengiklan. Tetapi pengaturan-pengaturan politik sebenarnya lebih berperan menjauhkan jarak antara realitas empirik dengan realitas media (televisi).
Berorientasinya televisi ke media hiburan membuktikan bahwa kebudayaan tidak selalu dapat direkayasa menurut desain dari atas. Dalam hal televisi swasta, dinamika ekonomi ternyata lebih menentukan dalam membentuk suatu kebudayaan. Mekanisme ekonomi telah mendinamisasi televisi dalam menampilkan sosok budayanya, baik secara organisasi (cara bagaimana perusahaan itu dikelola), maupun secara institusional (nilai-nilai yang dianut, karakter program acara yang diproduksi, sifat-sifat hubungannya dengan institusi lain). Di sisi lain, khalayak masyarakat industri telah ikut memberi sumbangan bagi terbentuknya sosok budaya televisi melalui selera massalnya.


Acuan :

Ashadi Siregar."Etika Siaran Televisi",makalah seminar Sistem dan Format Siaran Televisi di Indonesia, Yogyakarta, 1993
Ernst Cassirer. (1987). Manusia dan Kebudayaan.: Gramedia, Jakarta 1987.
Kuntowijoyo.. Budaya dan Masyarakat.: PT Tiara Wacana, Yogyakarta 1987
M. Sastrapratedja, Kaum Intelektual dan Peranannya dalam Kebudayaan, makalah seminar, Jakarta, 1986
Umar Kayam. Budaya Massa Indonesia,Prisma, Jakarta.1981
»»  Selengkapnya...
Post

REMAJA INSTANT

REMAJA “INSTANT”

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa ini biasanya dimulai pada saat seseorang mencapai kamatangan seksual dan diakhiri pada saat ia mencapai kedewasaan.
Lamanya masa peralihan ini ditentukan berbeda-beda oleh para ahli, tergantung dari sudut pandang mereka masing-masing. Sebagai contoh, Y. Singgih D. Gunarsa & Singgih D . Gunarsa membatasi masa remaja pada usia: 12-22 tahun. Menurut mereka, masa remaja yang cukup panjang ini masih dapat dibagi lagi dalam 3 tahap, yaitu: (1) masa persiapan fisik, antara umur 11-15 tahun, (2) masa persiapan diri, antara umur 15-18 tahun, dan (3) masa persiapan dewasa, antara umur 18-21 tahun.
Pada masa persiapan fisik, yang paling menyolok pada diri remaja adalah perubahan fisik yang sedang dialaminya. Pada saat remaja memasuki masa persiapan diri, pada umumnya kematangan tubuh dan kedewasaan seksual sudah tercapai. Pada masa ini ia sedang menyiapkan diri menuju pembentukan pribadi yang dewasa. Pada masa persiapan dewasa, remaja diharapkan sudah mencapai status kedewasaan dalam lingkungan keluarga. Pada masa ini ia harus menyiapkan masa depan, peran dan penempatan dirinya dalam masyarakat.
Perubahan sosial
Pada masa remaja, seseorang memasuki status sosial yang baru. Ia dianggap bukan lagi anak-anak. Karena pada masa remaja terjadi perubahan fisik yang sangat cepat sehingga menyerupai orang dewasa, maka seorang remaja juga sering diharapkan bersikap dan bertingkahlaku seperti orang dewasa. Pada masa remaja, seseorang cenderung untuk meng-gabungkan diri dalam 'kelompok teman sebaya'. Kelompok so-sial yang baru ini merupakan tempat yang aman bagi remaja. Pengaruh kelompok ini bagi kehidupan mereka juga sangat kuat, bahkan seringkali melebihi pengaruh keluarga. Menu-rut Y. Singgih D. Gunarsa & Singgih D. Gunarsa, kelompok remaja bersifat positif dalam hal memberikan kesempatan yang luas bagi remaja untuk melatih cara mereka bersikap, bertingkahlaku dan melakukan hubungan sosial. Namun kelompok ini juga dapat bersifat negatif bila ikatan antar mereka menjadi sangat kuat sehingga kelakuan mereka menjadi "overacting' dan energi mereka disalurkan ke tujuan yang bersifat merusak
Televisi penjual mimpi
Tayangan televisi yang setiap hari muncul di televisi kian hari kian bervariasi. Diantara banyak acata TV buat remaja, kayaknya sinetron dan reality show yang paling banyak digandrungi. Secara psikologis mayoritas remaja memang doyan melotin tontonan yang bercerita seputar liku-liku kehidupan mereka yang penuh warna.
Disadari atau tidak, sisi negatif dari hiburan remaja yang menjual mimpi telah menbidani lahirnya remaja “instant”. Hal ini diungkapkan oleh Inna Mutmainnah (Bulletin remaja Islam, 05/05/03). Beliau mengingatkan, gencarnya sinetron remaja yang berkiblat pada gaya hidup barat akan membentuk pola sikap dan pola pikir remaja yang serba cepat (instant).
Remaja Instant pada prespektif komunikasi
Minat seorang remaja tentu tidak sama, tergantung dari banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Namun menurut Susanto, minat yang paling penting dan paling universal bagi remaja masa kini dapat digolongkan dalam tujuh kategori, yaitu minat rekreasi, minat sosial, minat pribadi, minat pada pendidikan, minat pada pekerjaan, minat pada agama dan minat pada simbol status.
Beberapa minat rekreasi yang terdapat dalam diri remaja adalah: bermain dan berolah-raga, bersantai dan mengobrol dengan teman-teman, bepergian, melakukan suatu hobi, berdansa, membaca, menonton film dan televisi, mendengarkan radio, kaset dan CD, serta melamun dikala mereka bosan atau kesepian.
Tentang minat sosial remaja, hal ini dipengaruhi oleh ke-sempatan yang dimiliki remaja dan kepopulerannya dalam kelompok. Kritik dan usulan pembaruan, walaupun seringkali kurang bersifat konstruktif dan tidak praktis, adalah merupakan salah satu contoh dari perwujudan minat tersebut.
Minat pribadi merupakan minat yang terkuat di kalangan remaja. Contoh dari minat ini adalah minat pada penampilan diri, pada pakaian, pada prestasi, pada kemandirian dan pada uang.
Mengapa remaja kita terjebak dalam hedonisme? Sebagaimana fenomena-fenomena social lainnya, tidak ada penyebab tunggal yang menciptakan kecendrungan itu. Kita bisa menyebutnya beberapa sumber: film-film (seri) TV dan tekenovela yang sering menaarkan gaya hidup permisif, yang kemudian ditiru remaja kita yang tengah mencari identitas diri; struktur masyarakat yang timpang: kesenjangan sosial, sulitnya memperoleh pandidikan yang bermutu dan murah, sulitnya mencari kerja, dan mencari nafkah; kurangya pendidikan agama dalam keluarga; langkahnya pemimpin yang bias dijadakan panutan; dan mungkin kurang disadari adalah sifat bawaan mereka (dan kita semua) yaitu sifat krocojiwa dihadapan bangsa-bangsa barat yang kita kagumi dan gemar meniru sikap, perilaku dan penampilan mereka.
Peniruan terhadap Barat ini dapat kita lihat, mulai dari penggunaan nama pribadi yang berbau barat, penggunaan aksesoris-aksesoris remaja barat,pakaian yang mengumbar aurat mulai dari buati ke sekwilda, hingga perayaan-perayaan remaja barat seperti valentine, hallowen, dll. Mungkin peniruan yang berkiblat ke negar barat dikarenakan kita adalah suatu bangsa yang pernah dijajah oleh bangsa Barat, sehingga kita merasa rendah di hadapan bangsa Barat, dan kita pun secara sadar atau tidak menginginkan life style seperti penjajah Negara kita. Padahal dari segi budaya, kebudayaan kita sangat berbeda dari mereka, kita yang berkepribadian Timur mempunyai pandangan hidup yang mementingkan kehidupan kerohanian,mistik, pikiran prelogis, sedangkan Barat mempunyai pandangan hidup yang memntingkan kehidupan material, pikiran logis . Jadi apakah ini pula yang mengakibatkan remaja kita berkiblat ke barat, dikarenakan lebih menyukai ciri kepribadian Barat?



DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Y. Singgih D. & Gunarsa, Singgih D., Psikologi Remaja , Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980.
Mulyana, Deddy, Nuansa-Nuansa Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.
Susanto, Daniel, Pemantapan Tingkahlaku Moral Pada Remaja, Ditinjau Dari Teori Belajar, Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1981.
Toha, Dudung A, Menghibur Remaja dengan Mimpi, Buletin Remaja Islam, Studia, 2004.
»»  Selengkapnya...
Follow N45CH on Twitter
   Kumpulan Artikel Bugis !

   
   Semuanya ada disini...!
   Suka Suka
   Widget Bugis !
   
   Kumpulan widget lagu daerah dll...!
   Suka Suka